The Place I Called “HOME”

Home is the place where someone is thinking about you.- Jiraya –

31 December 2015 06:00 am

Dengan yakin saya mantapkan kaki melangkah menuju terminal bungurasih. Yap! Jalan kaki ke terminal bungurasih dari kos saya memang lumayan jauh, butuh sekitar 40-45 menit untuk sampai ke sana dengan berjalan kaki. Kenapa saya memilih jalan kaki? Selain karena masih pagi dan udaranya masih segar, saya juga harus berhemat untuk keperluan “mbolang” kali ini. Saya sudah merencanakan akan menghabiskan malam tahun baru di salah satu tempat wisata di Jawa Tengah tepatnya di Dieng. Saya ingin menikmati sunrise pertama di tahun 2016 di salah satu tempat “Golden Sunrise” di Indonesia.

Sesampainya di terminal bungurasih, sebenarnya saya masih bingung harus menaiki bus yang mana karena saya memang jarang ke terminal bungurasih jadi masih ga tau tempat “ngetem”-nya bus yang harus saya tumpangi. Menurut informasi yang saya dapat, untuk ke Dieng dari Surabaya, saya bisa ikut bus tujuan Purwokerto atau Magelang. Mungkin karena muka saya yang kebingungan banyak calo yang menawarkan bantuan dengan “agak maksa”. Untunglah saya segera menemukan bus tujuan Magelang. Namun, sebelum saya menumpangi bus tersebut, saya bertanya terlebih dulu kepada kondektur yang bertugas lebih dekat dari mana kalo mau menuju Wonosobo dari Surabaya, Magelang atau Purwokerto. Beruntungnya saya, orang yang saya tanya adalah supir bus itu sendiri dan beliau bilang lebih baik ke Magelang dulu, dari situ baru lanjut dengan mikrobus tujuan Wonosobo. Agak lega setelah tahu tujuan pasti harus kemana (kurang persiapan banget yah?). Saya mengambil tempat duduk di dekat pintu belakang bus, tempat paling nyaman untuk tidur menurut saya.

Lalu, sesaat sebelum bus berangkat, ada seorang perempuan berjilbab yang naik dan mengambil tempat di sebelah saya. Dia membawa helm merah. Saya hanya melempar senyum ringan ke arahnya dan kembali sibuk dengan rencana-rencana di kepala saya. “Mba mau kemana?” pertanyaan tiba-tiba yang bikin saya melongo kaya orang bego sedetik sebelum tersenyum sambil menjawab “Ke Magelang mba, mau ke Wonosobo. Mba mau kemana, kok bawa helm?” Sambil nunjuk helmnya “Oh, ini. Saya mau ke Jogja, mau langsung jalan sama temen-temen, jadi skalian bawa helm sendiri.”

Begitulah awal perkenalan kami yang berlanjut dengan saling bertukar bbm dan saling follow di IG. Sepanjang perjalanan kita beberapa kali bertukar cerita. And I found myself enjoy around her.

IMG_20151231_152038
Her name is Antika Putri
15-12-31-14-29-12-096_deco
Maklum masih abege. ^_^

Around 05.00 pm

Sampailah saya di terminal Magelang. Segera saya turun dan mendapati satu-satunya mikrobus tujuan Wonosobo yang tersisa sore itu. Sekitar satu jam berlalu, ada seorang penumpang yang naik mikrobus itu dan bertanya tentang tujuan saya. Saya dengan mantap menjawab saya ingin ke Dieng. Bapak tersebut menahan tawa sambil berkata “Mba, jam segini udah ga ada angkot ke Dieng. Mba sampe di Wonosobo sudah malam, ga ada supir yang berani ke Dieng malam-malam karena kabut dan jalannya yang berlika-liku. Kalo besok pagi sih ada mba.”

DHEG!! “Mampus gue. Trus malam ini gue nginap mana dong?”

Melihat saya mulai panik bapak itu menawarkan saya untuk turun di Temanggung dan ikut pendakian ke gunung Sindoro atau gunung Sumbing. “Pendakian? Seriously? Where did he get the idea about me being a hiker? Seumur-umur gue belom pernah mendaki gunung. Sendiri pula! God help me.” Pikiran-pikiran saya mulai melayang ke kemungkinan-kemungkinan terburuk malam tahun baru ini saya akan jadi gembel di negeri antah berantah. Jalan dengan uang pas-pasan, terancam melewatkan tahun baru jadi gelandangan, dan entah masih bisa pulang atau tidak.

Lalu, bapak itu menganjurkan lebih baik saya mengikuti pendakian gunung Sindoro atau gunung Sumbing yang belakangan saya tahu bahwa kedua gunung itu disebut gunung kembar karena letaknya yang persis berhadapan. Lagi katanya, “Nanti mba turun di base camp tempat ngumpulnya para pendaki aja mba. Pas turun ikut jalan ke kiri base campnya pendaki yang mau naik ke gunung Sumbing, sedangkan nyebrang ke kanan base campnya gunung Sindoro. Tinggal pilih aja mba. Letaknya pas berhadapan di jalan kok mba.” Kelihatannya mereka mengira saya seorang pendaki karena backpack yang saya bawa memang mirip sebuah carrier bag yang biasa dipakai untuk mendaki. Yang membuat saya semakin panik adalah ternyata mikrobus yang saya tumpangi ternyata tidak jadi menuju Wonosobo. Sepertinya sang supir berubah pikiran dan menurunkan penumpang yang ingin melanjutkan ke Wonosobo di suatu tempat (pokoknya suatu tempat diantara Magelang dan Wonosobo laah).

Dengan bekal petunjuk yang diberikan bapak sebelumnya, saya menumpangi bus selanjutnya and kinda hope not end up stray in the forest or somethin’. Sampai di tempat tujuan, saya memilih untuk ikut pendakian ke gunung Sindoro. And there’s when my real journey begun. Yeah, walaupun melenceng jauh dari perencanaan awal.

Around 07.30 pm

Dengan muka rada bego saya mantapkan tekad melangkah ke base camp pendakian gunung Sindoro. Dan ternyata ada banyak orang dan fakta bahwa saya sendirian di tengah-tengah tempat yang asing bagi saya membuat saya sedikit terintimidasi dan minder. Lucky me, ada sekelompok pendaki dari desa dekat Temanggung yang ingin melakukan pendakian dan bersedia “menampung” saya dalam group mereka.

Sepanjang pendakian, saya banyak merenung dan merefleksikan perjalanan saya sepanjang tahun 2015. Lebih tepatnya perjalanan kuliah saya sejauh ini. Apa yang sudah saya lakukan, apa yang sudah saya capai, dan apa yang akan saya lakukan selanjutnya.

And I couldn’t help but to think about “home”.

Ini kali kedua saya melewatkan Natal dan Tahun Baru ribuan kilometer dari rumah. Namun, ini pertama kalinya saya benar-benar melewati momen terpenting sepanjang tahun SENDIRIAN. Literally ALONE. Selama 2 tahun saya hidup Jawa, ini pertama kalinya saya merindukan “rumah”. Benar-benar rindu.Karena ternyata, melewatkan momen Natal dan Tahun Baru tanpa orang-orang yang kita kenal tidaklah semenyenangkan yang saya bayangkan. Saya selalu menolak pulang ke Ambon kalau memang tidak benar-benar untuk keperluan mendesak. Bukannya saya tidak rindu rumah atau apa, (eh, memang ga rindu sih, hehehe ^.^), hanya saja saya pikir daripada buang-buang uang untuk tiket pulang-pergi Sub-Amq yang lumayan mahal itu mending saya pakai untuk travelling dan pengalaman baru. Lebih praktis untuk saya yang memang suka jalan-jalan.

1 January 2016 00.00 am

Ketika pergantian tahun kami masih setengah jalan dari pos tempat kami camping dan kembang api dinyalakan di sekitar puncak gunung Sumbing dan gunung Sindoro, saat itu saya jadi membayangkan suasana malam tahun baru di Ambon yang pastinya ramai minta ampun. Sudah pasti lebih ramai dari kota manapun (menurut saya) karena benar-benar dirayakan serentak oleh seluruh kota dengan menjadikan beberapa sudut kota sebagai tempat berkumpulnya masyarakat untuk merayakan malam pergantian tahun bersama. Dan tiba-tiba saja saya kangen Ambon.

Pertama kali saya melewatkan Natal 2013 dan Tahun Baru 2014 jauh dari rumah adalah bersama saudara dari mama di Jogja dan guru les saya waktu SD di Bali. Berbeda dengan kali ini, saya benar-benar sendirian. Beruntunglah saya bertemu teman-teman Warmapala yang bersedia mengikutsertakan saya dalam pendakian bersama mereka bahkan membiarkan saya beristirahat di salah satu tenda mereka. Tidak hanya sabar terhadap seorang “newbie” seperti saya yang baru pertama kali mendaki, mereka bahkan membawakan tas saya dan memberi makan (err, did i sound like a pet here? I hope not). Terlepas dari budaya kami yang berbeda, mereka menerima kehadiran saya dalam kelompok mereka dengan hangat and already consider me as one of them.

This slideshow requires JavaScript.

Around 03.00 am

Setelah istirahat 2 jam di pos tempat kami mendirikan tenda, beberapa dari kami melanjutkan pendakian sampai puncak (termasuk saya) dan yang lainnya memilih tetap tinggal di camp.

Dan sekali lagi, saya memikirkan tentang arti “rumah”.

Saya jadi teringat salah satu quote dari anime kesukaan saya tentang rumah: “Rumah adalah tempat dimana ada orang yang memikirkan kamu.” -Jiraya-

Saya setuju dengan pernyataan tersebut. Menurut saya, rumah berarti keluarga, namun keluarga tidak selalu berarti hubungan darah. Orang bilang “Darah lebih kental dari air.” Tapi untuk saya, terkadang apa yang tak mampu dipahami “darah” bisa sangat dimengerti oleh “air”. Karena ikatan emosi terkadang lebih kuat dibanding ikatan darah. Dan dari pendakian perdana saya ini, saya belajar satu hal lagi mengenai arti rumah. Karena rumah juga berarti hati dan pikiran kita yang selalu terkoneksi dengan orang lain tanpa batas ruang dan waktu. Dimana pun kamu berada, selama ada orang yang menerima kamu, disitulah rumahmu.

Around 05.00 am

mtf_JJUVe_113.jpg
The very first sunrise in 2016

Untuk pertama kalinya saya menyaksikan matahari yang muncul malu-malu dari ufuk timur di ketinggian 3000-an mdpl, betapa saya mengucap syukur pada yang Maha Kuasa untuk negeri ini. Lahir dan dibesarkan di negeri yang dianugerahi kecantikan alam yang begitu mempesona membuat saya semakin terpesona akan keagungan Sang Pencipta.

Dan untuk kesekian kalinya, saya jatuh cinta pada negeri ini. Ya, saya bangga menjadi bagian dari bangsa ini, bagian dari negara yang masyarakatnya terkenal sangat ramah terpisah dari semua konflik yang pernah terjadi dalam negeri. Karena kemana pun takdir membawa saya nanti, Indonesia selalu menjadi “rumah” saya.

16-01-01-05-03-04-763_photo
DAMN, I LOVE INDONESIA!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s