Jejak Pahlawan di Kota Pahlawan

Dans

Judul Buku   : Kemana Perginya Para Perwira?

Kurator           : Ady Setyawan

Editor              : Ardi Wina Saputra & Joe Pradana

Penerbit         : Buku Litera

Tahun Terbit             : Cetakan Pertama 2018

Tebal Buku   : viii + 146 Halaman; 13 x 19 cm

ISBN               : 978-602-5681-04-2

Buku ini merupakan kumpulan karya pentigraf bertema sejarah pertama di Indonesia yang berlatar pertempuran Surabaya tahun 1945-1949. Kumpulan cerita pendek tiga paragraf ini ditulis oleh dua puluh dua anggota komunitas Roode Brug Soerabaia.

“Roode Brug Soerabaia adalah komunitas penggiat sejarah di Kota Pahlawan yang berdiri sejak tahun 2010. Kegiatan komunitas ini diantaranya melakukan reka ulang, dimana setiap tahun selalu terlibat dalam Parade Juang di bulan November untuk memperingati pertempuran Surabaya.

Selain itu komunitas yang aktif melakukan kegiatan wisata sejarah ini juga melakukan riset dan penulisan buku. Karya tulis pertama adalah Benteng Benteng Surabaya yang berupa hasil penelusuran reruntuhan pertahanan pantai kota Surabaya dalam perang dunia II. Saat ini komunitas masih aktif melakukan riset pertempuran Surabaya dan pemetaan gua-gua Jepang di Indonesia,” (penggalan blurb).

Kota Surabaya adalah salah satu tempat paling bersejarah dalam perjuangan meraih dan mempertahankan kemrdekaan Indonesia, bahkan disebut sebagai Kota Pahlawan. Namun, para penulis buku ini merasa bahwa identitas kota Surabaya sebagai Kota Pahlawan semakin memudar seiring robohnya bangunan-bangunan cagar budayanya. Maka, berbekal inspirasi dari kisah nyata maupun murni fiksi, mereka berupaya menghadirkan kembali romantisme era perang kemerdekaan di Surabaya.

Terdapat empat puluh lima kisah pendek yang diceritakan dari berbagai sudut pandang yang menceritakan tentang persahabatan, perjuangan, keluarga dan cinta¾yang sering tak sampai. Selain kisah-kisah romantis penuh cinta dan luka dalam suasana perang kemerdekaan, ada juga cerita tentang perjuangan bersama sahabat untuk mempertahakan kemerdekaan dan keluarga yang ditinggalkan demi membela bangsa serta cerita yang bergenre science fiction. Buku ini juga dilengkapi dengan ilustrasi di halaman awal beberapa bab yang menggambarkan isi cerpen pada bab tersebut.

Beberapa cerita dalam kumpulan karya pentigraf ini tidak hanya bercerita dari sudut pandang para pejuang kemerdekaan atau orang Indonesia, namun ada juga cerita dari pihak penjajah. Antara lain berjudul; Arabelle (Anggun Esti Wardani, hal.7), William Ackerley (Anggun Esti Wardani, hal.11), Mossel-Mossel Selatan Belanda (Agustina Elisabet, hal.117), Jembatan Merah (Joe Pradana, hal.123), dan Untuk Merah Putih (Ayu Saraswati, hal.129).

Dari berbagai kisah romantis yang berakhir tragis dalam kumpulan cerita pentigraf ini, menurut saya yang paling berkesan adalah kisah William dan Arabelle dalam cerita berjudul William Ackerley (hal.11). Anggun Esti Wardani berhasil menggambarkan sebuah kisah kasih yang menyayat hati ditengah-tengah suasana perang yang mencekam.

Berbagai cerita tentang persahabatan juga sangat mengharukan. Salah satunya berjudul Senyuman Sahabat (hal. 29) ditulis oleh Ady Setyawan berdasarkan kisah nyata. Cerita ini mengisahkan tentang dua orang sahabat karib yang melarikan diri dari kejaran pasukan musuh, namun salah satu dari mereka tertembak dan sambil tersenyeum ia menyuruh yang lainnya untuk lari meninggalkannya. Ada pula cerita tentang seorang pemuda pejuang yang menembaki sahabatnya sendiri karena salah mengira sahabatnya sebagai salah satu anggota pasukan musuh (Membidik Tentara Inggris, hal.125).

Salah satu cerita tentang perjuangan pemuda yang membuat saya sangat terharu berjudul Pemuda (hal.111). Dalam cerita ini, Titta Santya tidak hanya membawa pembaca merasakan suasana pertempuran yang mengerikan, namun juga rasa haru dan bangga yang dirasakan oleh para pejuang meskipun mereka harus meregang nyawa untuk melawan penjajah.

Selain itu, terdapat dua cerita yang menurut saya sangat menggugah kemanusiaan berjudul Apa Maumu? (Ardi Wina Saputra, hal.47) dan Bukan Musuh ( Rahmad Aryo Widodo, hal.55). Cerita pertama mengisahkan salah satu serdadu Sekutu yang dihajar habis-habisan oleh salah satu tentara pejuang. Ketika ditanya oleh tentara itu tentang keinginannya, serdadu tersebut mengeluarkan sebuah foto seorang wanita yang tengah hamil tua dan sebelum akhirnya meninggal ia menjawab, “I want to see, my son” (hal.48).

“Seperti keluarga kami yang sudah diserang hancur lebur, ia pun memiliki keluarga. Ia menangis” (Bukan Musuh, hal.56). Kisah tentang seorang pejuang yang hendak membunuh salah satu tentara musuh, namun diurungkannya atas dasar rasa kemanusiaan setelah mendengar permohonan ampun dan Takbir yang dikumandangkan tentara tersebut. Cerita-cerita bergenre science fiction juga tak kalah menarik, menurut saya penulis mampu menggabungkan tema sejarah dan kemajuan teknologi dengan sangat apik dalam cerpen yang berjudul Masa Lalu (hal. 61) dan Jembatan Merah (hal.123).

Meskipun menggunakan dialek Surabaya dan beberapa istilah dalam bahasa asing, gaya bahasa penulisan yang digunakan oleh para penulis dalam kumpulan pentigraf ini mudah dipahami. Namun, ada beberapa istilah yang tidak diberi catatan terjemahan oleh para penulis. Contohnya, internee (hal.12), Kaigun (hal.21), arisaka (hal.21), Tokubetsu Keisatsutai (hal.55), Inlander (hal.57), KNIL (hal.66), Jibakutai (hal.84), dan Sodanco (hal.89).

Mengutip perkataan Bung Karno, “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah,” buku ini merupakan bacaan yang semestinya dibaca pemuda pemudi Indonesia terkhususnya Arek-Arek Suroboyo. Supaya tidak melupakan sejarah kota Surabaya dan turut melestarikan identitas kota Surabaya sebagai kota Pahlawan.

Selamat Hari Jadi Ke-725 Kota Surabaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s