Luka Mereka, Duka Kita, Seharusnya.

Picture From Instagram – Ivana_Kurniawati

Senin, dua puluh sembilan Oktober,

Seratus delapan puluh sembilan jiwa melayang,

Raga mereka pun masih terhilang,

Ratap tangis dan isak air mata tak terbendung,

Mengandung harap dan rindu yang menggunung.

Sementara luka dan tangisan mereka belum mengering,

Beberapa orang memilih menutup mata dan sibuk menyalahkan pihak berwenang,

Entah apa koheren antara kesalahan teknis dengan politis,

Seakan-akan semua bencana adalah kesalahan pemimpin yang tak becus dan bengis.

Miris,

Seolah-olah nurani mereka tak ikut teriris,

Melihat kepedihan saudara-saudara yang tengah menangis.

Teruntuk setiap nyawa yang terenggut,

Tubuh yang belum ditemukan,

Dan keluarga yang ditinggalkan,

Doaku tak pernah surut.

Pelacur Juga Manusia

“Ah, doa pelacur nista seperti gue mana didengar…,”

Re:, hal.42

Novel Review

Judul: Re:
Pengarang: Maman Suherman
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun: Cetakan ketiga, April 2016 Tebal: 171 hlm

Terlepas dari pekerjaan Re: sebagai seorang WTS ( Wanita Tuna Susila ), dia digambarkan sebagai sosok perempuan yang ceplas ceplos, cerdas, tidak gegabah dalam bertindak dan penuh perhitungan. Perkenalan dengan Re:, menyeret Herman, seorang mahasiswa Kriminologi sekaligus wartawan, ke dalam sisi tergelap dunia pelacuran.

Diceritakan dari sudut pandang orang pertama, Herman, penulis menggunakan alur maju mundur untuk menceritakan kisah hidup Re:. Dari catatan penulis di bagian akhir cerita, novel ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi penulis sewaktu mengerjakan skripsi sebagai mahasiswa Kriminologi. Melalui buku ini, penulis membagi sebagian detail tentang fenomena pelacuran di Indonesia yang membuat saya belajar banyak tentang dunia orang-orang tunasusila. Contohnya seperti istilah-istilah sentul*, kantil` dan lines°.

Penulis juga berhasil mendeskripsikan dengan rapi dan mudah dimengerti tentang seluk beluk dunia pelacuran. Seperti bagaimana mereka beroperasi, entah itu pelacur yang terorganisir ataupun individual dan hubungan saling menguntungkan antar para pekerja hotel sampai tukang parkir dan pemilik warung dengan para pelacur.

Bagian yang paling meremukkan hatiku adalah ketika Re: menolak untuk menemui anaknya karena dia merasa tak pantas menjadi seorang ibu. Dia meminta Herman memeluk anaknya, Melur, mewakili dirinya.

“Gue ini pelacur…,” kata Re: nyaris tak terdengar. “Jangan sampai di tubuhnya melekat keringat pelacur. Peluk dia untukku.”
(Hal.138)

Pada kenyataannya, kita hidup di lingkungan di mana stigma negatif melekat erat dengan para tunasusila.

“…lonte itu sepertinya saja hidup karena masih bernapas, padahal sudah mati. Sering dianggap bukan manusia. Kalau sudah tidak diperlukan, dibuang begitu saja. Dikejar-kejar seperti coro. Diinjak-injak sampai nggak berbentuk!” (Hal.40)

Seketika ada rasa marah yang menggelegak di dada, kalau mengingat kepicikan orang yang berpendapat, “Dia pantas diperkosa, pelacur sih….” “Gimana nggak diperkosa, dia pake rok mini!” (Hal. 99)

Ditambah pola pikir mayoritas masyarakat yang seringkali malah memojokkan korban. Beberapa waktu lalu ada seorang artis perempuan yang berani berbicara ketika ada yang melecehkannya via online. Siapa yang disalahkan? Si artis itulah! Memang banyak yang memuji keberaniannya untuk speak up, tapi lebih banyak yang malah menjatuhkannya. Ironisnya, sebagian besar orang yang berkomentar negatif tentang dia, adalah sesama perempuan.

Namun, seperti Herman yang percaya bahwa pelacur pun mahklukNya, saya percaya bahwa pelacur juga punya hati. Pelacur juga manusia. Pelacur juga berhak menjadi seorang ibu atau ayah.

“Aku cuma percaya, pelacur pun mahklukNya, dan Dia pasti akan selalu menjaga, melindungi dan menyayangi ciptaanNya. Tuhan bagi siapa saja!” (Hal.91)


Sentul* : adalah lesbian yang dalam berhubungan seksual berperan sebagai laki-laki.

Kantil` : lawannya sentul.

Lines° : lesbian.

Sekali Lagi

Yang dulu sedekat nadi

Bisa menjadi sejauh mentari

Yang dulu berjanji selalu ada

Bisa tetiba hilang tanpa aba-aba

Tiba-tiba kau tutup pintu hatimu

Begitu pula jendela jiwamu

Dan berlari menjauh dariku

Bulan dan tahun telah berlalu

Tidak halnya perasaanku padamu

Sesungguhnya waktu sama sekali tak menyembuhkan

Malah memperparah luka yang dipelihara dalam kubangan kesedihan

Ingin ku teriakkan ‘Aku lelah!’

Namun padamu saja hatiku tetap memilih berlabuh

Sekali lagi ku bertaruh pada takdir

Berharap ku tak lagi dihempaskan ke titik nadir

Teruntuk: Papa dan Mama

You make it look easy even when I’m hard to love.

-One Ok Rock-

Surabaya, 7 Oktober 2018.

Hari ini, kurang lebih dua dekade yang lalu, kalian berjuang membawaku melihat dunia ini.

Terutama kau, mama.

Setelah sembilan bulan menampung aku di perutmu, dengan susah payah kau melahirkanku. Mempertaruhkan nyawa demi menghadirkanku. Katamu, malam-malam melelahkan dalam penantian akan kehadiranku terbayar ketika mendengar tangisan pertamaku.

Lalu, ketika aku lahir, tanpa lelah kalian membimbing dan mengajari aku tentang dunia. Meskipun terkadang bahkan seringkali aku membangkang, kalian memastikan rumah kita akan selalu menjadi tempatku untuk pulang.

Caramu mendidik, mama, tak selalu selembut peran ibu-ibu di film atau sinetron. Selangkah demi selangkah kumantapkan kaki menjauh darimu. Namun, semakin jauh ku berjalan, semakin aku tersadar bahwa semua yang kau lakukan adalah untuk melindungiku.

Kasihmu mama, begitu dalam meski terlampau sering disakiti olehku. Entah seluas apa hatimu, kau tetap memelukku saat ku berontak dan tak mengindahkan didikanmu.

Dan kau, papa.

My first love, my hero.

Sejak kecil, kau pastikan aku mendapatkan yang terbaik. Memamg tak semua permintaanku bisa kau penuhi, tapi kau tetap berusaha mengabulkan sebisamu. Aku ingat waktu pertama kali aku meminta sebuah telepon genggam karena semua teman sekolahku sudah punya. Tapi saat itu kau bilang tak punya uang. Dan tentu saja aku yang masih kekanakan itu melakukan aksi mogok. Lalu, pada saat ulang tahunku yang kedua belas, kau pulang membawa hadiah sebuah telepon genggam. Tentu saja aku gembira bukan main. Itu hadiah terindah yang kuterima. Segera saja semua kekesalanku menguap.

Tapi, tahu apa aku tentang segala upayamu mencari uang? Peduli apa aku tentang keringat dan air matamu demi memenuhi tuntutan-tuntutanku?

Saat lebih dewasa, entah berapa kali ku mengecewakanmu. Bukannya tumbuh menjadi putri kebanggaan, justru malu yang kuberi. Namun, doa dan sembahyangmu tak putus mengiringi langkahku.

Ah, papa dan mama.

Tempatku berkeluh kesah dan mengadu tentang ketidakadilan dunia ini yang paling nyaman memang hanya bersama kalian.

Bersama rintik hujan yang membasahi bumi Ambon sekarang, ku harap langit menyampaikan pesanku.

Bahwa, anak kalian yang pembangkang ini masih dan akan terus berusaha membuat kalian bangga suatu saat nanti.

Maaf, aku selalu menyakiti kalian dengan perkataan dan perbuatanku.

Terima kasih, karena tidak pernah menyerah padaku.