Teruntuk: Papa dan Mama

You make it look easy even when I’m hard to love.

-One Ok Rock-

Surabaya, 7 Oktober 2018.

Hari ini, kurang lebih dua dekade yang lalu, kalian berjuang membawaku melihat dunia ini.

Terutama kau, mama.

Setelah sembilan bulan menampung aku di perutmu, dengan susah payah kau melahirkanku. Mempertaruhkan nyawa demi menghadirkanku. Katamu, malam-malam melelahkan dalam penantian akan kehadiranku terbayar ketika mendengar tangisan pertamaku.

Lalu, ketika aku lahir, tanpa lelah kalian membimbing dan mengajari aku tentang dunia. Meskipun terkadang bahkan seringkali aku membangkang, kalian memastikan rumah kita akan selalu menjadi tempatku untuk pulang.

Caramu mendidik, mama, tak selalu selembut peran ibu-ibu di film atau sinetron. Selangkah demi selangkah kumantapkan kaki menjauh darimu. Namun, semakin jauh ku berjalan, semakin aku tersadar bahwa semua yang kau lakukan adalah untuk melindungiku.

Kasihmu mama, begitu dalam meski terlampau sering disakiti olehku. Entah seluas apa hatimu, kau tetap memelukku saat ku berontak dan tak mengindahkan didikanmu.

Dan kau, papa.

My first love, my hero.

Sejak kecil, kau pastikan aku mendapatkan yang terbaik. Memamg tak semua permintaanku bisa kau penuhi, tapi kau tetap berusaha mengabulkan sebisamu. Aku ingat waktu pertama kali aku meminta sebuah telepon genggam karena semua teman sekolahku sudah punya. Tapi saat itu kau bilang tak punya uang. Dan tentu saja aku yang masih kekanakan itu melakukan aksi mogok. Lalu, pada saat ulang tahunku yang kedua belas, kau pulang membawa hadiah sebuah telepon genggam. Tentu saja aku gembira bukan main. Itu hadiah terindah yang kuterima. Segera saja semua kekesalanku menguap.

Tapi, tahu apa aku tentang segala upayamu mencari uang? Peduli apa aku tentang keringat dan air matamu demi memenuhi tuntutan-tuntutanku?

Saat lebih dewasa, entah berapa kali ku mengecewakanmu. Bukannya tumbuh menjadi putri kebanggaan, justru malu yang kuberi. Namun, doa dan sembahyangmu tak putus mengiringi langkahku.

Ah, papa dan mama.

Tempatku berkeluh kesah dan mengadu tentang ketidakadilan dunia ini yang paling nyaman memang hanya bersama kalian.

Bersama rintik hujan yang membasahi bumi Ambon sekarang, ku harap langit menyampaikan pesanku.

Bahwa, anak kalian yang pembangkang ini masih dan akan terus berusaha membuat kalian bangga suatu saat nanti.

Maaf, aku selalu menyakiti kalian dengan perkataan dan perbuatanku.

Terima kasih, karena tidak pernah menyerah padaku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s