Pelacur Juga Manusia

“Ah, doa pelacur nista seperti gue mana didengar…,”

Re:, hal.42

Novel Review

Judul: Re:
Pengarang: Maman Suherman
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun: Cetakan ketiga, April 2016 Tebal: 171 hlm

Terlepas dari pekerjaan Re: sebagai seorang WTS ( Wanita Tuna Susila ), dia digambarkan sebagai sosok perempuan yang ceplas ceplos, cerdas, tidak gegabah dalam bertindak dan penuh perhitungan. Perkenalan dengan Re:, menyeret Herman, seorang mahasiswa Kriminologi sekaligus wartawan, ke dalam sisi tergelap dunia pelacuran.

Diceritakan dari sudut pandang orang pertama, Herman, penulis menggunakan alur maju mundur untuk menceritakan kisah hidup Re:. Dari catatan penulis di bagian akhir cerita, novel ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi penulis sewaktu mengerjakan skripsi sebagai mahasiswa Kriminologi. Melalui buku ini, penulis membagi sebagian detail tentang fenomena pelacuran di Indonesia yang membuat saya belajar banyak tentang dunia orang-orang tunasusila. Contohnya seperti istilah-istilah sentul*, kantil` dan lines°.

Penulis juga berhasil mendeskripsikan dengan rapi dan mudah dimengerti tentang seluk beluk dunia pelacuran. Seperti bagaimana mereka beroperasi, entah itu pelacur yang terorganisir ataupun individual dan hubungan saling menguntungkan antar para pekerja hotel sampai tukang parkir dan pemilik warung dengan para pelacur.

Bagian yang paling meremukkan hatiku adalah ketika Re: menolak untuk menemui anaknya karena dia merasa tak pantas menjadi seorang ibu. Dia meminta Herman memeluk anaknya, Melur, mewakili dirinya.

“Gue ini pelacur…,” kata Re: nyaris tak terdengar. “Jangan sampai di tubuhnya melekat keringat pelacur. Peluk dia untukku.”
(Hal.138)

Pada kenyataannya, kita hidup di lingkungan di mana stigma negatif melekat erat dengan para tunasusila.

“…lonte itu sepertinya saja hidup karena masih bernapas, padahal sudah mati. Sering dianggap bukan manusia. Kalau sudah tidak diperlukan, dibuang begitu saja. Dikejar-kejar seperti coro. Diinjak-injak sampai nggak berbentuk!” (Hal.40)

Seketika ada rasa marah yang menggelegak di dada, kalau mengingat kepicikan orang yang berpendapat, “Dia pantas diperkosa, pelacur sih….” “Gimana nggak diperkosa, dia pake rok mini!” (Hal. 99)

Ditambah pola pikir mayoritas masyarakat yang seringkali malah memojokkan korban. Beberapa waktu lalu ada seorang artis perempuan yang berani berbicara ketika ada yang melecehkannya via online. Siapa yang disalahkan? Si artis itulah! Memang banyak yang memuji keberaniannya untuk speak up, tapi lebih banyak yang malah menjatuhkannya. Ironisnya, sebagian besar orang yang berkomentar negatif tentang dia, adalah sesama perempuan.

Namun, seperti Herman yang percaya bahwa pelacur pun mahklukNya, saya percaya bahwa pelacur juga punya hati. Pelacur juga manusia. Pelacur juga berhak menjadi seorang ibu atau ayah.

“Aku cuma percaya, pelacur pun mahklukNya, dan Dia pasti akan selalu menjaga, melindungi dan menyayangi ciptaanNya. Tuhan bagi siapa saja!” (Hal.91)


Sentul* : adalah lesbian yang dalam berhubungan seksual berperan sebagai laki-laki.

Kantil` : lawannya sentul.

Lines° : lesbian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s