Cermin Hitam Putih

Bahagia, apa itu?

Apakah orang yang sering tertawa berarti ia bahagia?

Aku sering melihat Yasmin, anak tetangga sebelah, tertawa saat bermain bersama ibunya. Tapi, aku juga sering melihat ia menangis dipukuli ayahnya ketika mabuk.

Apakah ia masih bahagia?

Apakah orang yang sering pamer kemesraan di media sosial sudah pasti memiliki hubungan bahagia?

Aku sering melihat akun para selebriti dunia maya yang berlomba memamerkan keharmonisan, kekayaan dan prestasi keluarga mereka. Kemudian muncul berita perceraian, perselingkuhan dan hal-hal tidak menyenangkan lainnya dari orang-orang yang sama.

Apakah mereka sungguh pernah merasa bahagia bersama?

Apakah orang yang selalu terlihat ceria memang benar-benar bahagia?

Aku sering melihat di televisi, anak-anak yang bermain dengan riang gembira seolah tanpa beban, padahal mereka tinggal di tempat yang bahkan tidak layak disebut ‘rumah’.

Apakah mereka akan tetap bahagia?

Tak sedikit juga yang menangis dan meringkuk ketakutan karena rumah dan kampung halaman mereka ‘kehujanan’ bom dan peluru.

Apakah nanti mereka bisa merasa bahagia?

Sesungguhnya, aku pun tahu jawaban pasti untuk pertanyaan-pertanyaan itu. Hey, jangan salahkan aku! Aku hanya sekadar bertanya.

Mari kuceritakan padamu arti bahagia berdasarkan pengamatanku melalui sebuah cermin hitam putih.

Aku tinggal bersama kedua sahabatku, Joe dan Irene. Joe adalah tipikal lelaki pada umumnya yang cuek dan cenderung tidak rapi. Bukan berarti semua lelaki seperti ituiya, aku tahu. Sebaliknya, Irene adalah perempuan perfeksionis dan menjunjung tinggi kebersihan.

Kebiasaan Joe yang paling sering membuat Irene jengkel adalah ketika Joe menaruh kaos kaki yang sudah ia pakai ke dalam sepatunya, “Astaga! Kaos kaki itu kan sudah kamu pakai. Berapa kali harus kubilang? Kaos kaki yang sudah dipakai langsung taruh di tempat cucian, Joe!” Dengan tampang tak berdosa Joe menjawab, “Tapi kan itu baru sekali kupakai Ren, masih bersih.”

Mereka memang sering bertengkar tentang hal-hal sepele, tapi juga tak jarang mereka saling menunjukkan kasih sayang. Seperti suatu malam ketika mereka berdua pulang dalam keadaan letih setelah seharian bekerja, Joe mengambil alih semua tugas domestik rumah tangga, “Aku bikin pasta, ya? Kamu main saja dengan Tobi atau istirahat. Biar aku yang berbenah.”

Selesai makan malam dan berbenah giliran Irene yang memijat kaki Joe di sofa. Dan aku sedang bergelung manja di atas karpet diantara kaki Irene.

Walaupun hari-hari Joe dan Irene diisi pertengkaran kecil, aku tahu mereka saling mencintai dan bahagia bersama. Tentu saja mereka juga mencintaiku.

Aku, seekor anjing paling gagah sejagat, berbulu hitam dengan sedikit corak putih yang mempesona, tahu pasti bahagia bukan sekedar hitam putih seperti yang ditampilkan cermin ini.

Bahagia memiliki banyak warna.

Apa definisi bahagiamu?

One thought on “Cermin Hitam Putih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s