Rumah Tanpa Atap

19 Januari 1999 – 19 Januari 2019

#Memori20Maluku

19 Januari 1999, kami meninggalkan rumah ini dalam keadaan dilahap lidah-lidah api. Kondisi rumah ini masih tetap berdiri tanpa atap dan dinding dengan bekas terbakar sampai sekarang di Wailela, Ambon.

Walau saya masih terlalu kecil untuk mengingat kenangan selama tinggal di sana, saya turut merasakan pedihnya hati ayah dan ibu saya setiap kali mereka menceritakan tentang rumah ini. Karena bagi mereka, rumah ini adalah saksi perjuangan mereka untuk memulai sebuah keluarga.

Hari itu, mereka terpaksa merelakan segala kerja keras, peluh dan air mata yang telah mereka curahkan sepenuh hati dijarah dan terbakar di depan mata tanpa mampu berbuat apa-apa. Dalam kondisi yang mencekam itu, yang mereka pikirkan hanyalah menyelamatkan dua anak mereka (saya dan kakak laki-laki) serta beberapa dokumen berharga.

Kini, kami sekeluarga sudah dapat membangun kembali kehidupan kami, walau harus dimulai dari nol di kampung baru. Meski luka yang dirasakan belum benar-benar sembuh, orang tua saya selalu menamamkan ajaran untuk tetap menghargai saudara-saudara yang tidak seiman dan mensyukuri apa pun yang sekarang bisa kami nikmati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s